Asal Mula Bahasa
Bahasa
merupakan hal penting bagi manusia. Dalam kegiatan sehari hari manusia
menggunakan berbagai macam dan jenis bahasa. Tetapi banyak orang tidak tahu
asal usul dari sebuah bahasa yang sering mereka gunakan setiap saat.
Pada
zaman Yunani Kuno, telah banyak muncul pertanyaan tentang asal mula bahasa.
Beberapa filsuf berpendapat dan menciptakan teori-teori tentang bahasa, tetapi teori-teori
itu tidak didukung oleh data empiris tentang hal tersebut. Maka dari itu teori
tentang bahasa di anggap spekulatif.
Spekulasi
yang pernah berkembang pada abad ke-17 adalah ketika ke-17,seorang filolog
Swedia mengungkapkan di Taman Eden (Surga Firdaus) Tuhan berbahasa Swedia, Adam
berbahasa Denmark, dan pembantu berbahasa Perancis. Dan sampai abad pertengahan
banyak orang percaya awalnya bahasa di dunia ini hanya satu, yaitu bahasa
Ibrani. Kemudian karena orang-orang banyak berdosa maka Tuhan menghukum mereka
dengan memberinya berbagai bahasa yang berbeda agar mereka susah berhubungan
(mite Menara Babil).
Teori Asal Mula Bahasa
Berikut
adalah beberapa teori-teori tentang bahasa yang pernah ada ;
1. Teori
Tekanan Sosial (The Social Presure Theori) (Dikemukakan oleh Adam Smith)
Teori
ini bertolak dari anggapan bahasa manusia muncul karena manusia primitif
(hominoid) dihadapkan pada kebutuhan saling memahami.
Ketika
mereka ingin mengungkapkan sesuatu mereka mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu.
2. Teori
Onomatopetik (tiruan bunyi alam) (Dikemukakan oleh Johann Gotfried Herder)
Teori
ini mengungkapkan bahwa objek-objek diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang
dihasilkan oleh objek tersebut. Contoh tokek, cicit, embik (b. Indonesia). Teori
ini oleh Max Muller dinamakan teori bow-wow (bunyi salak anjing).
3. Teori
Interjeksi (interjection theory)
Teori
ini bertolak dari asumsi bahasa lahir dari ujaran-ujaran instinktif karena
tekanan-tekanan batin, perasaan mendalam, dan rasa sakit yang dialami manusia.
Seandainya
pendapat ini benar, maka kita dapat menduga bunyi uuh timbul karena
konotasi rasa orang yang menderita.
4. Teori
Nativistik (Tipe Fonetik)(Dikemukakan oleh Max
Muller)
Teori
ini diciptakan karena Max Muller menolak teori onomatopetik dan interjeksi.
Berdasarkan
pada asumsi tiap barang akan mengeluarkan bunyi kalau dipukul. Berdasarkan
bunyi-bunyi tersebut manusia meresponnya melalui ekspresi artikulatoris yang
separuhnyabberbentuk vokal, dalam hal ini berbentuk tipe-tipe fonetik tertentu.
Teori ini termasuk bunyi-bunyi benturan, hembusan, dan sejenisnya.
5. Teori
Yo-He-Ho
Teori
ini memandang bahwa bahasa muncul sebagai bunyi-bunyi seruan yang muncul
bersamaan dengan upaya fisik yang cukup kuat.
Bunyi dari orang-orang yang terlibat dalam suatu
kegiatan dapat menjadi sumber bahasa untuk memberi semangat pada sesamanya,
mereka akan mengucapkan bunyi-bunyi khas.
6. Teori
Isyarat (Diajukan oleh Wilhelm Wundt)
Wundt
mengemukakan teori ini berdasarkan pada hukum psikologi, yaitu tiap perasaan
manusia mempunyai bentuk ekspresi yang khusus.
Tiap ekspresi
akan mengungkapkan perasaan tertentu yang dialami seseorang hingga memunculkan
bahasa isyarat. Bahasa isyarat timbul dari emosi dan gerakan-gerakan ekspresif.
Asal
Mula Bahasa Beberapa Negara
1.
Bahasa
Inggris
Bahasa
Inggris memiliki awal mula kenap bisa digunakan di seluruh dunia loh. Awalnya
bahasa Inggris lahir di pulau Britania tepat 1500 tahun yang lalu. Bahasa
Inggris itu sebuah bahasa Jermanik Barat yang berasal dari dialek-dialek
Anglo-frisia. Lalu bahasa tersebut dibawa ke pulau Britania di Eropa oleh para
imigran Jermanik dari beberapa wilayah barat laut yang sekarang kalian ketahui
sebagai Negara Belanda dan Jerman.
2.
Bahasa
Indonesia
Bahasa
Melayu diketahui sebagai akar dari lingua franca Indonesia. Sutan Takdir
Alisjahbana, dalam bukunya Sedjarah Bahasa Indonesia, mengutarakan bahasa
Melayu memiliki kekuatan untuk merangkul kepentingan bersama sehingga untuk
dipakai di Nusantara.
Menurut
Alisjahbana, persebarannya juga luas karena bahasa Melayu dihidupi oleh para
pelaut pengembara dan saudagar yang merantau ke mana-mana. "Bahasa itu
adalah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh di kalangan penduduk Asia
Selatan," tulisnya. Faktor lain, bahasa Melayu adalah bahasa yang mudah
dipelajari.
Pada
era pemeritahan Belanda di Hindia, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi
kedua dalam korespondensi dengan orang lokal . Persaingan antara bahasa Melayu
dan bahasa Belanda pun semakin ketat. Gubernur Jenderal Roshussen mengusulkan
bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat.
Referensi
Universitas Pendidikan
Indonesia