Minggu, 18 Oktober 2015

Teori Asal Mula Bahasa

Asal Mula Bahasa
Bahasa merupakan hal penting bagi manusia. Dalam kegiatan sehari hari manusia menggunakan berbagai macam dan jenis bahasa. Tetapi banyak orang tidak tahu asal usul dari sebuah bahasa yang sering mereka gunakan setiap saat.
Pada zaman Yunani Kuno, telah banyak muncul pertanyaan tentang asal mula bahasa. Beberapa filsuf berpendapat dan menciptakan teori-teori tentang bahasa, tetapi teori-teori itu tidak didukung oleh data empiris tentang hal tersebut. Maka dari itu teori tentang bahasa di anggap spekulatif.
Spekulasi yang pernah berkembang pada abad ke-17 adalah ketika ke-17,seorang filolog Swedia mengungkapkan di Taman Eden (Surga Firdaus) Tuhan berbahasa Swedia, Adam berbahasa Denmark, dan pembantu berbahasa Perancis. Dan sampai abad pertengahan banyak orang percaya awalnya bahasa di dunia ini hanya satu, yaitu bahasa Ibrani. Kemudian karena orang-orang banyak berdosa maka Tuhan menghukum mereka dengan memberinya berbagai bahasa yang berbeda agar mereka susah berhubungan (mite Menara Babil).
Teori Asal Mula Bahasa
            Berikut adalah beberapa teori-teori tentang bahasa yang pernah ada ;
1.      Teori Tekanan Sosial (The Social Presure Theori) (Dikemukakan oleh Adam Smith)
Teori ini bertolak dari anggapan bahasa manusia muncul karena manusia primitif (hominoid) dihadapkan pada kebutuhan saling memahami.
Ketika mereka ingin mengungkapkan sesuatu mereka mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu.
2.      Teori Onomatopetik (tiruan bunyi alam) (Dikemukakan oleh Johann Gotfried Herder)
Teori ini mengungkapkan bahwa objek-objek diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh objek tersebut. Contoh tokek, cicit, embik (b. Indonesia). Teori ini oleh Max Muller dinamakan teori bow-wow (bunyi salak anjing).
3.      Teori Interjeksi (interjection theory)
Teori ini bertolak dari asumsi bahasa lahir dari ujaran-ujaran instinktif karena tekanan-tekanan batin, perasaan mendalam, dan rasa sakit yang dialami manusia.
Seandainya pendapat ini benar, maka kita dapat menduga bunyi uuh timbul karena konotasi rasa orang yang menderita.
4.      Teori Nativistik (Tipe Fonetik)(Dikemukakan oleh Max Muller)
Teori ini diciptakan karena Max Muller menolak teori onomatopetik dan interjeksi.
Berdasarkan pada asumsi tiap barang akan mengeluarkan bunyi kalau dipukul. Berdasarkan bunyi-bunyi tersebut manusia meresponnya melalui ekspresi artikulatoris yang separuhnyabberbentuk vokal, dalam hal ini berbentuk tipe-tipe fonetik tertentu. Teori ini termasuk bunyi-bunyi benturan, hembusan, dan sejenisnya.
5.      Teori Yo-He-Ho
Teori ini memandang bahwa bahasa muncul sebagai bunyi-bunyi seruan yang muncul bersamaan dengan upaya fisik yang cukup kuat.
Bunyi  dari orang-orang yang terlibat dalam suatu kegiatan dapat menjadi sumber bahasa untuk memberi semangat pada sesamanya, mereka akan mengucapkan bunyi-bunyi khas. 
6.      Teori Isyarat (Diajukan oleh Wilhelm Wundt)
Wundt mengemukakan teori ini berdasarkan pada hukum psikologi, yaitu tiap perasaan manusia mempunyai bentuk ekspresi yang khusus.
Tiap ekspresi akan mengungkapkan perasaan tertentu yang dialami seseorang hingga memunculkan bahasa isyarat. Bahasa isyarat timbul dari emosi dan gerakan-gerakan ekspresif.
            Asal Mula Bahasa Beberapa Negara
1.      Bahasa Inggris
Bahasa Inggris memiliki awal mula kenap bisa digunakan di seluruh dunia loh. Awalnya bahasa Inggris lahir di pulau Britania tepat 1500 tahun yang lalu. Bahasa Inggris itu sebuah bahasa Jermanik Barat yang berasal dari dialek-dialek Anglo-frisia. Lalu bahasa tersebut dibawa ke pulau Britania di Eropa oleh para imigran Jermanik dari beberapa wilayah barat laut yang sekarang kalian ketahui sebagai Negara Belanda dan Jerman.
2.      Bahasa Indonesia
Bahasa Melayu diketahui sebagai akar dari lingua franca Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana, dalam bukunya Sedjarah Bahasa Indonesia, mengutarakan bahasa Melayu memiliki kekuatan untuk merangkul kepentingan bersama sehingga untuk dipakai di Nusantara.
Menurut Alisjahbana, persebarannya juga luas karena bahasa Melayu dihidupi oleh para pelaut pengembara dan saudagar yang merantau ke mana-mana. "Bahasa itu adalah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh di kalangan penduduk Asia Selatan," tulisnya. Faktor lain, bahasa Melayu adalah bahasa yang mudah dipelajari.
Pada era pemeritahan Belanda di Hindia, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi kedua dalam korespondensi dengan orang lokal . Persaingan antara bahasa Melayu dan bahasa Belanda pun semakin ketat. Gubernur Jenderal Roshussen mengusulkan bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat.

Referensi
Universitas Pendidikan Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar